Covid-19 dan Fobia Rumah Sakit
Gambar Kartun, Ketua DPRD SBB, Abdul Rasyid Lisaholit
Redaksi
03 Oct 2021 18:01 WIT

Covid-19 dan Fobia Rumah Sakit

 

(Oleh: Abdul Rasyid Lisaholit)

 

Pemberlakuan Protap Kesehatan dengan cara melakukan Rapid Anti Gen untuk mendeteksi menularnya Covid 19 pada di rumah sakit ataupun Puskesmas tak sedikit menuai polemik. Tentunya sisi positif dari hal tersebut adalah suatu deteksi dini terhadap sebaran covid 19 yang sudah menjadi pandemik yang mambahayakan.

Seperti umum dipahami Rapid Tes cepat antigen atau tes cepat, adalah sebuah tes diagnostik cepat yang dipakai untuk pengujian titik perawatan yang mendeteksi langsung keberadaan atau ketiadaan antigen. Tes tersebut umum dipakai untuk deteksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19 dan kemudian di pastikan dengan PCR.

Orang yang terkena gejala atau yang terinveksi Covid 19 sudah tentu memiliki hasil postiv dari dari Rapid tersebut, dan langkah yang diambil selanjutnya adalah melakukan tindakan pengobatan dan pencegahan dengan cara dikarantikan pasien tersebut sambil menununggu hasil dari PCR. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa positivnya Rapid Anti Gen belum tentu Positiv Covid-18.

Namun dalam beberapa kasus, ada orang yang meninggal dengan sebab penyakit lain tetapi memiliki riwayat Reaktiv Antigen dan kemudian di kuburkan dengan prokes yang ketat membuat pemahaman sebagian masyarakat bahwa itu adalah kematian karena Covid-19.

Hal tersebut menurut saya merupakan kejanggalan medical  sekaligus sebagai bagian penyebab Fobia itu. Kejeanggalan tersebut adalah belum ada ukuran atau standar yang pasti yang berkaitan dengan Test Awal yang memiliki tingkat akurasi yang pasti. Dan hal inilah yang membentuk mindset publik seolah Positiv Rapid antigen atau yang di kenal dengan istilah Reaktiv seolah merupakan positiv Covid-19.

Lalu Apa Yang Terjadi?

Beberapa bulan lalu ada beberapa kerabat di kampung halaman yang dirujuk ke salah satu rumah sakit umum daerah dipusat kota kabupaten.  Pasien itu setau saya memiliki riwayat gula, sakitnya itu membuatnya hampir setahun lebih tak melakukan aktivitas selaku kepala keluarga karena sekait. Usinya sekitar 60an lebih.

Seperti kita ketahui bersama bahwa apapun kuluhan sakit dan penyakit yang diderita jika dirujuk ke rumah sakit sudah pasti tentu tindakan pertama yang dilakukan adalah melakiakan rapid anti gen. Dan kerabat saya yang menderita pentakit gula tak luput dari tindakan itu. Dan mengejutkan adalah hasil yang keluar adalah reaktiv.

Keributan pun terjadi antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit lantaran pasien tersebut harus dikarantinakan. Proses karantina bagi keluarga adalah suatu tindakan yang tak bisa diterima sebab hanya menyengsarakan pasien.
Pihak keluarga yakin benar bahwa pasien sama sekali "tidak terpapar Corona". Lalu hasil Rapid anti Gen kemudian di ragukan, dan selanjutnya pasien tersbut gagal menjalani perawtan alias dikembalikan ke ke rumahnya.

Pengalaman seperti ini lebih dari 2 kali saya temukan. Dan saya pun melakukan semacam reseaerch bertanya kepada beberapa kerabat, teman apakah ada ketakuan masyarakat, minimal di desanya, semacam traumatis untuk berobat ke rumah sakit? Hampir sebagian besar yang tanyakan mendapati jawaban sama dimana ketakutan tuk dilakukannya Rapid anti Gen sebagai langkah awal adalah sebab fobia itu terjadi.

Fobia tersebut secara tidak langsung mengubah persepsi masyarakat untuk tidak percaya terhadap Rapid anti Gen, bahkan yang lebih ekstrim, tidak percaya terhadap Corona dan tentunya hal ini sangat disayangkan.

Beberapa bulan kemduian Pasien tersebut diatas mulai membaik. Dan para keluarga tak satupun yang terpapar/terinfeksi.

Perlukah Rapid Antigen?

Ini pertanyaan rumit. Jika dilihat dari sikap traumatis masyarakat Apakah rapid anti gen memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat? Semuanya dikembalikan pada pemerintah terkait cara dan penanganan.

Jika SWAB dan PCR memiliki tingkat akurasi yang lebih pasti kenapa tidak dijadikan sebagai langkah awal penanganan? Bukankah Wakil Presiden Indonesia, Ma'ruf Amin telah meminta Rapid Antigen dikurangi karena tingkat akurasinya lemah?.

Diakhir semua itu pandemi Covid-19 masih saja merajalela dimana-mana, olehnya itu menjaga jarak dan melakukan interaksi dengan banyak orang perlu kita gunakan prokes untuk menghindari tertularnya virus mematikan itu. Menjaga imun tubuh adalah prasyarat utama maka kita diharuskan untuk melakukan vaksin agar kemungkinan tertular oleh covid-19 bisa teratasi.

Dapatkan sekarang

Liputan Seram Barat, Ringan dan cepat
0 Disukai